Literasi Opini Pendidikan Perguruan Tinggi
Beranda / Perguruan Tinggi / Sumpah Pemuda di Ruang Kelas: Persatuan Bukan Sekadar Hafalan, tetapi Hasil Belajar

Sumpah Pemuda di Ruang Kelas: Persatuan Bukan Sekadar Hafalan, tetapi Hasil Belajar

dutacendikia.id, Lampung – Setiap peringatan Hari Sumpah Pemuda, peserta didik kembali mengenang ikrar yang lahir pada 28 Oktober 1928. Mereka mengikuti upacara, menyanyikan lagu kebangsaan, dan mendengarkan pesan tentang pentingnya persatuan. Namun, di balik rutinitas peringatan itu, tersimpan pertanyaan yang lebih mendasar bagi dunia pendidikan: sejauh mana semangat persatuan benar-benar tumbuh dalam perilaku anak setelah upacara berakhir?

Pertanyaan tersebut bukan untuk mengurangi arti penting Sumpah Pemuda. Sebaliknya, ia mengingatkan bahwa pendidikan kebangsaan tidak cukup berhenti pada penguasaan sejarah atau kemampuan menghafalkan ikrar. Persatuan perlu dipelajari melalui pengalaman, dibiasakan dalam interaksi, dan diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari. Ruang kelas madrasah menjadi salah satu tempat penting bagi proses tersebut.

Pada peringatan Hari Sumpah Pemuda ke-98 tahun ini, tema “PATRIOTIK, GIGIH, BEREMPATI: PEMUDA UNTUK INDONESIA” dapat dibaca dalam kaitannya dengan psikologi pembelajaran, khususnya proses pembentukan karakter dan perilaku peserta didik. Ketiga nilai itu bukan semata-mata pesan moral untuk diperdengarkan, melainkan prinsip yang dapat diterjemahkan ke dalam pengalaman belajar yang konkret.

Dalam perspektif psikologi pembelajaran, belajar tidak sebatas menerima dan mengingat informasi. Proses tersebut juga berkaitan dengan perubahan cara berpikir, bersikap, dan bertindak. Anak mungkin mampu menjelaskan arti persatuan ketika ditanya oleh guru, tetapi pemahaman itu belum tentu tercermin saat memilih teman bermain, bekerja dalam kelompok, atau menghadapi perbedaan pendapat.

Karena itu, pembelajaran tentang persatuan perlu memberi ruang bagi peserta didik untuk mengalaminya secara langsung. Guru dapat merancang kegiatan kelompok yang mempertemukan anak-anak dengan teman yang berbeda kemampuan maupun kebiasaan. Setiap peserta didik diberi kesempatan untuk berkontribusi, mendengarkan pendapat orang lain, dan menyelesaikan persoalan bersama. Melalui proses tersebut, anak belajar bahwa keberhasilan kelompok tidak bergantung pada keseragaman anggotanya, tetapi pada kesediaan mereka untuk bekerja sama.

Langkah Nyata Adiwiyata MIN 2 Bandar Lampung, Perluas Kolaborasi Pengelolaan Lingkungan

Pengalaman semacam itu membuat persatuan lebih mudah dipahami sebagai bagian dari kehidupan, bukan sekadar konsep abstrak dalam pelajaran. Anak mulai mengenali bahwa perbedaan tidak selalu menjadi penghalang untuk mencapai tujuan bersama. Sebaliknya, setiap orang dapat mengambil peran sesuai kemampuannya, selama ada kemauan untuk saling menghargai dan mendukung.

Bagi madrasah, pembelajaran persatuan juga memiliki landasan dalam nilai-nilai Islam. Surah Al-Hujurat ayat 13 mengingatkan bahwa manusia diciptakan berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar saling mengenal. Sementara itu, Surah Al-Ma’idah ayat 2 mengajarkan pentingnya bekerja sama dalam kebajikan. Kedua pesan tersebut memberikan dasar bagi pendidikan yang menempatkan penghormatan terhadap sesama dan kerja sama sebagai bagian dari pembentukan karakter.

Nilai-nilai itu semestinya tidak berhenti sebagai materi dalam buku Akidah Akhlak atau Pendidikan Pancasila. Penerapannya dapat hadir dalam diskusi kelompok, proyek kelas, hingga cara guru dan peserta didik menyelesaikan konflik. Ketika seorang anak membantu temannya memahami pelajaran, ia sedang belajar tentang kepedulian. Ketika ia menerima pendapat berbeda tanpa mengejek, ia sedang mempraktikkan penghormatan. Ketika sebuah kelompok menyelesaikan tugas tanpa merendahkan anggota yang memiliki kemampuan berbeda, pengalaman persatuan sedang terbentuk.

Dalam pengertian ini, kelas Islami bukan sekadar ruang yang dipenuhi simbol keagamaan. Ia merupakan lingkungan belajar yang menghadirkan nilai-nilai Islam melalui perilaku dan interaksi nyata. Ajaran tentang kebaikan memperoleh makna ketika peserta didik melihat, mengalami, dan membiasakannya dalam hubungan sehari-hari.

Tema Patriotik, Gigih, dan Berempati juga dapat diterjemahkan melalui kegiatan pembelajaran yang dekat dengan kehidupan anak. Patriotisme, misalnya, tidak harus selalu disampaikan melalui pidato tentang cinta tanah air. Pada usia sekolah dasar, kecintaan terhadap bangsa dapat ditumbuhkan melalui kebiasaan menjaga lingkungan sekolah, menghormati simbol negara, mengenal keberagaman budaya Indonesia, dan menggunakan pengetahuan untuk memberikan manfaat bagi sesama.

Wakapolres Lampung Barat Pimpin Upacara di MAN 1, Tekankan Disiplin dan Keselamatan Berlalu Lintas

Sementara itu, kegigihan dapat berkembang melalui proses belajar yang memberi kesempatan kepada anak untuk mencoba, melakukan kesalahan, menerima umpan balik, dan memperbaiki pekerjaannya. Kesulitan tidak perlu dipandang sebagai alasan untuk menyerah, melainkan sebagai bagian dari proses belajar. Dalam situasi seperti ini, penghargaan terhadap usaha dan dukungan untuk berkembang menjadi bagian penting dari pengalaman pendidikan.

Adapun empati dapat dibiasakan dengan mengajak peserta didik memahami perasaan orang lain. Guru dapat membuka ruang diskusi tentang konflik sederhana, memberi kesempatan kepada anak untuk mendengarkan pengalaman temannya, serta mengajak mereka mencari penyelesaian yang adil. Dari proses tersebut, anak belajar bahwa kecerdasan tidak semata-mata berkaitan dengan kemampuan menjawab soal, tetapi juga dengan cara memperlakukan orang lain.

Ketiga nilai tersebut akan lebih bermakna apabila tumbuh sebagai budaya kelas, bukan sekadar tulisan pada spanduk peringatan. Di sinilah peran guru menjadi penting. Anak-anak belajar bukan hanya dari materi yang disampaikan, melainkan juga dari cara guru memperlakukan mereka.

Ketika guru bersikap adil, menghargai pertanyaan, tidak mempermalukan peserta didik yang belum memahami pelajaran, serta menyelesaikan perselisihan secara bijaksana, nilai penghormatan dan persatuan memperoleh contoh nyata. Sebaliknya, pesan tentang kebersamaan akan kehilangan makna apabila anak menyaksikan perilaku yang bertentangan dengan nilai tersebut. Pembentukan karakter membutuhkan keselarasan antara perkataan, tindakan, dan iklim pembelajaran yang dibangun di madrasah.

Dengan demikian, tanggung jawab guru melampaui penyampaian materi pelajaran. Guru turut merancang pengalaman yang membantu peserta didik memahami nilai, menghayatinya, dan menerapkannya dalam kehidupan. Proses tersebut membutuhkan pembiasaan yang konsisten agar nilai yang dipelajari tidak berhenti sebagai pengetahuan, tetapi berkembang menjadi sikap dan perilaku.

MAN 1 Lampung Barat Gelar TKA Kelas XII, Petakan Capaian Akademik dan Kesiapan Studi Lanjut

Sumpah Pemuda mengingatkan kembali keberanian generasi muda pada 1928 untuk melampaui perbedaan demi cita-cita bersama. Semangat itu perlu diteruskan melalui pendidikan yang tidak hanya membuat anak mengetahui sejarah, tetapi juga memberi mereka pengalaman membangun masa depan bersama. Ukuran keberhasilannya tidak cukup dilihat dari seberapa lantang peserta didik mengucapkan ikrar, melainkan juga dari kesediaan mereka bekerja sama, menghargai perbedaan, membantu teman, dan bertanggung jawab terhadap lingkungan bersama.

Bagi guru madrasah, peringatan Sumpah Pemuda dapat menjadi kesempatan untuk menghadirkan pembelajaran yang lebih hidup. Patriotisme ditumbuhkan melalui kontribusi, kegigihan melalui proses belajar, dan empati melalui kepedulian. Ketiganya memerlukan ruang untuk dipraktikkan, bukan hanya dijelaskan.

Sebab, persatuan tidak lahir semata-mata dari apa yang dihafalkan anak, tetapi juga dari apa yang mereka alami dan lakukan berulang kali. Sumpah Pemuda seharusnya tidak berhenti di lapangan upacara. Ia perlu tumbuh di ruang kelas, hidup dalam persahabatan, dan terlihat dalam perilaku peserta didik. Dari pengalaman belajar yang sederhana itulah, semangat “Patriotik, Gigih, Berempati: Pemuda untuk Indonesia” dapat menemukan maknanya dalam kehidupan generasi penerus bangsa. (Alfa)

Oleh: Fandi Israwan

Mahasiswa S2 PAI, UIN Jurai Siwo Lampung

Berita Populer






× Advertisement
× Advertisement