Dutacendikia.id, Bandar Lampung-Tumbuhnya minat baca peserta didik di tingkat sekolah dasar dan madrasah ibtidaiyah patut disambut dengan kebijakan yang terarah, terukur, dan berkelanjutan. Dalam era yang dipenuhi distraksi digital, literasi tidak lagi sekadar pilihan, tetapi menjadi kebutuhan dasar dalam membentuk generasi yang berpikir kritis, reflektif, dan berakhlak. Dalam konteks ini, MIN 8 Bandar Lampung tampil sebagai contoh nyata dengan meluncurkan program Wajib Baca Sekali Seminggu yang terstruktur dan berbasis pembiasaan, Senin (02/06).
Program ini mengatur jadwal wajib baca secara bergilir, di mana setiap kelas dari tingkat I hingga VI mendapatkan waktu khusus untuk membaca di perpustakaan satu kali dalam seminggu. Hal ini diatur agar proses berjalan efisien, tertib, dan tetap memperhatikan keseimbangan dengan kegiatan belajar-mengajar reguler.
Menurut Ibu Fitriani, pengurus perpustakaan MIN 8 Bandar Lampung, pendekatan ini dirancang agar siswa tidak hanya terpapar pada buku, tetapi juga memiliki pengalaman emosional yang menyenangkan saat membaca.
“Kami menerapkan jadwal berbeda untuk setiap kelas. Jadi dalam satu minggu, semua kelas mendapat giliran membaca di perpustakaan. Tujuan utamanya bukan sekadar kewajiban, tapi membentuk kebiasaan dan rasa suka terhadap membaca,” ujar Fitriani saat ditemui tim redaksi dutacendikia.id di Sekolah.
Sementara itu, Plt. Kepala MIN 8 Bandar Lampung, Bapak M. Saleh, S.Pd.I., M.Pd, menegaskan bahwa program ini merupakan bentuk nyata komitmen madrasah terhadap penguatan literasi dan pengembangan karakter siswa.
“Literasi adalah fondasi utama pendidikan. Melalui kegiatan membaca yang terjadwal dan didampingi, kami ingin membangun generasi yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga memiliki wawasan luas dan daya pikir kritis,” tuturnya.
Selama pelaksanaan program, guru turut terlibat aktif dalam mendampingi siswa membaca dan memfasilitasi diskusi ringan seputar isi bacaan. Buku-buku yang digunakan pun telah diseleksi agar sesuai dengan usia dan tahapan perkembangan kognitif siswa.

Perpustakaan MIN 8 Bandar Lampung
Perpustakaan MIN 8 Bandar Lampung kini tidak hanya menjadi tempat menyimpan koleksi buku, tetapi telah bertransformasi menjadi ruang literasi yang aktif, inspiratif, dan membentuk kebiasaan baik. Dengan dukungan yang konsisten dari para guru dan pengelola perpustakaan, kegiatan wajib baca ini telah berhasil menciptakan suasana yang kondusif bagi tumbuhnya minat baca siswa.
Langkah strategis ini patut diapresiasi sebagai bentuk kepedulian madrasah terhadap pentingnya membangun pondasi literasi sejak dini. MIN 8 Bandar Lampung telah menunjukkan bahwa dengan pengelolaan yang baik dan semangat kolaboratif, budaya membaca bukan hanya bisa ditumbuhkan, tetapi juga dinikmati oleh peserta didik secara alami dan berkelanjutan. (Septiano)


