Dutacendikia.id, Bandar Lampung — Di sebuah ruangan sederhana berbalut cat hijau muda, tepat di sisi barat bangunan MIN 7 Bandar Lampung, deretan rak buku tampak berdiri tegak. Di atasnya, ratusan buku pelajaran, majalah anak, dan bacaan tematik tertata rapi. Di tengah gempuran era digital, ruang ini justru jadi tempat paling tenang dan dicari banyak siswa: perpustakaan sekolah.
Tidak luas. Tak ada fasilitas digital, sofa baca, apalagi pendingin udara. Namun satu hal yang nyata: semangat pengelola dan siswa untuk menjaga api literasi tetap menyala.
“Kami memang belum punya perpustakaan yang ideal, tapi kami berusaha agar fungsinya tetap berjalan maksimal,” ujar seorang guru, sembari merapikan beberapa buku yang baru saja dikembalikan murid.
Tampak jelas perpustakaan ini menanamkan keteraturan dan tanggung jawab. Di bagian tengah, terdapat papan peraturan membaca yang dibuat penuh warna agar mudah dipahami siswa. Rak buku logam dan kayu berdiri mengapit jalan kecil selebar satu orang, diisi buku-buku tematik, LKS, ensiklopedia anak, hingga media belajar berbasis visual seperti anatomi tubuh manusia.
Tak hanya itu, perpustakaan ini juga memberi ruang bagi siswa untuk membaca secara santai selepas pelajaran. Sebagian guru bahkan rutin mengajak siswanya ke perpustakaan sebagai bagian dari proses belajar aktif.
“Ini bukan sekadar tempat meminjam buku. Di sini kami mengajarkan anak untuk mencintai ilmu, belajar tertib, dan menjaga fasilitas bersama,” imbuhnya.
MIN 7 Bandar Lampung menyadari bahwa perpustakaan bukan hanya ruangan, melainkan jantung dari pendidikan itu sendiri. Salah seorang guru madrasah mengatakan, kami terus berupaya menghidupkan budaya literasi meski dengan keterbatasan.
“Kami ingin perpustakaan ini terus tumbuh. Saat ini memang masih banyak keterbatasan, tapi kami yakin dengan sinergi semua pihak, termasuk orang tua dan pemerintah, perpustakaan bisa menjadi tempat yang lebih representatif,” ujarnya saat ditemui di sela kegiatan pembelajaran.
Sorot cahaya matahari yang menembus tirai jendela memberi penerangan alami pada ruang baca ini. Suasana tenang dan udara yang cukup sirkulatif membuat siswa betah membaca, meskipun harus duduk berdiri di samping rak. Di saat banyak institusi pendidikan mulai menggantungkan semua materi pada layar, MIN 7 Bandar Lampung justru kembali ke akar mendidik lewat buku yang disentuh, dibaca, dan dijaga.
Perpustakaan ini bukan sekadar ruang belajar, tapi cermin dari semangat pendidikan yang tetap bertahan. Di tengah segala keterbatasan, di situlah kadang lahir kekuatan yang sesungguhnya. (Septiano)


