Agama Nasional Opini Pendidikan
Beranda / Pendidikan / Kabid Penmad Kanwil Kemenag Lampung Ahmad Rifa’i Menyempurnakan Implementasi Kurikulum Berbasis Cinta.

Kabid Penmad Kanwil Kemenag Lampung Ahmad Rifa’i Menyempurnakan Implementasi Kurikulum Berbasis Cinta.

dutacendikia.id, Lampung – Dalam dinamika dunia pendidikan yang terus berubah, kita dihadapkan pada satu pertanyaan mendasar: apa yang seharusnya menjadi fondasi utama pendidikan madrasah kita hari ini? Apakah sekadar kecakapan akademik, daya saing digital, atau keberhasilan administratif semata?

Saya meyakini, pendidikan madrasah tidak boleh tercerabut dari ruh dasarnya: cinta. Sebuah kata yang sederhana, tetapi menyimpan kekuatan transformasional yang luar biasa. Cinta bukanlah konsep abstrak yang jauh dari realitas, melainkan energi kehidupan yang menumbuhkan keadaban, kebermaknaan, dan kemanusiaan dalam proses pendidikan.

Karena itu, melalui refleksi panjang atas tantangan dan harapan pendidikan Islam, saya menawarkan tiga indikator pemersatu keberhasilan Kurikulum Berbasis Cinta di madrasah:
1. Madrasah Ramah Lingkungan
2. Madrasah Ramah Anak
3. Madrasah Sejahtera secara Mental dan Spiritual

Ketiga indikator ini bukan hanya idealisme, melainkan kerangka praksis pendidikan yang menempatkan cinta sebagai pusat orientasi kurikulum.

1. Madrasah Ramah Lingkungan: Etika Ekologis sebagai Dimensi Spiritual

MIN 9 Bandarlampung Sukses Gelar Tes Kemampuan Akademik, 127 Siswa Ikuti TKA 2025/2026

Dalam Islam, menjaga lingkungan bukan sekadar urusan fisik atau sanitasi. Ia adalah bagian dari etika spiritual yang luhur. Allah SWT berfirman:

وَلَا تُفْسِدُوا فِي الْأَرْضِ بَعْدَ إِصْلَاحِهَا
“Dan janganlah kamu membuat kerusakan di bumi setelah (Allah) memperbaikinya.” (QS. Al-A’raf: 56)

Madrasah ramah lingkungan harus menjadi ruang pendidikan yang menyatu dengan alam, memupuk kecintaan terhadap bumi sebagai amanah ilahiyah. Ketika seorang siswa menyiram tanaman, membersihkan halaman, atau memilah sampah, sejatinya ia sedang mempraktikkan nilai-nilai spiritualitas ekologis.

Kurikulum berbasis cinta tidak boleh mengabaikan dimensi ini. Lingkungan adalah guru diam yang mengajarkan keikhlasan, kesabaran, dan tanggung jawab. Kita tidak hanya mendidik anak-anak mencintai ilmu, tetapi juga mencintai alam sebagai bagian dari kehidupan yang suci.

2. Madrasah Ramah Anak: Inklusivitas sebagai Keniscayaan

Semangat Kartini Menggema di MTsN 2 Lampung Selatan Kampus Kalirejo

Pendidikan yang tidak ramah anak adalah pendidikan yang kehilangan jiwanya. Madrasah yang berbasis cinta adalah madrasah yang menghadirkan rasa aman, suasana inklusif, dan peluang pertumbuhan optimal bagi seluruh peserta didik—apapun latar belakang sosial, ekonomi, atau kemampuannya.

Rasulullah ﷺ bersabda:

لَيْسَ مِنَّا مَنْ لَمْ يُوَقِّرْ كَبِيرَنَا، وَيَرْحَمْ صَغِيرَنَا
“Bukan termasuk golongan kami, orang yang tidak menghormati yang lebih tua dan tidak menyayangi yang lebih muda.” (HR. Tirmidzi)

Kutipan ini bukan hanya seruan etis, tapi landasan pedagogis. Pendidikan yang membesarkan hati anak-anak adalah pendidikan yang akan melahirkan generasi berjiwa besar. Kurikulum berbasis cinta harus memberi ruang untuk anak merasa didengar, dihargai, dan dikuatkan.

Di ruang kelas yang ramah anak, tidak ada ketakutan yang ada hanyalah dorongan untuk bertumbuh, bereksplorasi, dan mencinta.

TKA Hari Pertama di MIN 9 Bandar Lampung Berjalan Tertib, Siswa Kelas VI Tunjukkan Kesiapan Akademik

3. Madrasah Sejahtera Mental dan Spiritual: Jiwa yang Tenang, Ilmu yang Terang

Pendidikan hari ini menghadapi ancaman serius dari krisis mental: stres akademik, kekerasan simbolik, depresi sosial. Maka, keberhasilan kurikulum tidak bisa hanya diukur dari nilai ujian, tetapi juga dari sejauh mana madrasah menjadi tempat tumbuhnya ketenangan batin dan kejernihan spiritual.

Dalam sebuah hadits, Rasulullah ﷺ bersabda:

أَلَا وَإِنَّ فِي الْجَسَدِ مُضْغَةً، إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ
“Ketahuilah, sesungguhnya dalam tubuh ada segumpal daging. Jika ia baik, maka baiklah seluruh tubuh…” (HR. Bukhari dan Muslim)

Segumpal daging itu adalah hati, dan madrasah yang sehat adalah madrasah yang menyentuh hati. Maka, sejahtera mental dan spiritual bukanlah bonus, tetapi prasyarat dalam pendidikan Islam. Dzikir, refleksi, salat berjamaah, serta pembiasaan nilai-nilai moral bukanlah aktivitas tambahan, tapi jantung kehidupan madrasah.

Saya percaya, cinta bukanlah kata yang cengeng dalam dunia pendidikan. Ia justru merupakan konsep strategis yang mampu menyatukan dimensi afektif, kognitif, dan spiritual secara utuh. Ketika madrasah dijiwai cinta terhadap alam, terhadap anak-anak, dan terhadap kehidupan batin, maka kita telah memulai proyek besar: membangun peradaban dari dalam ruang kelas.

Madrasah bukan sekadar tempat belajar, tetapi rahim sosial tempat lahirnya generasi penuh kasih, penuh makna, dan penuh tanggung jawab.

“Jika ingin mengubah dunia, mulailah dari pendidikan. Dan jika ingin mengubah pendidikan, mulailah dari cinta.”

Oleh: H. Ahmad Rifa’i, S.E., M.M.
Kabid Pendidikan Madrasah, Kanwil Kemenag Provinsi Lampung

Berita Populer






× Advertisement
× Advertisement