dutacendikia.id, Bandar Lampung – Rabu pagi, aula MIN 5 Bandar Lampung tampak berbeda. Kursi-kursi tersusun rapi, hiasan merah putih menggantung di langit-langit, dan semangat para siswa kelas VI memancar dari wajah-wajah mereka. Sejak pukul 07.00 WIB, mereka berkumpul untuk mengikuti kegiatan Pembinaan Moderasi Beragama yang mengusung tema “Menolak Segala Bentuk Kekerasan yang Mengatasnamakan Agama di Lingkungan MIN 5 Bandar Lampung.”
Kegiatan ini menjadi salah satu wujud nyata komitmen madrasah dalam membentuk karakter peserta didik yang beriman, berakhlak mulia, serta mampu hidup rukun di tengah keberagaman. Rangkaian acara diawali dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya dan Mars Madrasah Ibtidaiyah yang dinyanyikan penuh semangat oleh seluruh siswa, menandakan kebanggaan mereka sebagai bagian dari keluarga besar madrasah. Doa bersama yang dipimpin guru agama menambah kekhidmatan suasana pagi itu.
Dalam sambutannya, Kepala MIN 5 Bandar

Suasana kegiatan Moderasi Beragama di Aula MIN 5 Bandar Lampung yang berlangsung khidmat dan edukatif.
Lampung Hj. Fakihah, S.Ag., M.M.Pd. menekankan pentingnya pemahaman moderasi beragama bagi generasi muda. Ia mengingatkan, di tengah arus informasi yang begitu cepat dan beragam, peserta didik perlu memiliki pondasi nilai yang kuat agar tidak mudah terpengaruh oleh sikap ekstrem atau intoleran.
“Anak-anak harus tumbuh menjadi pribadi yang cinta damai, menghormati perbedaan, dan mampu menjaga persaudaraan. Moderasi bukan berarti melemahkan keyakinan, tetapi menuntun kita untuk bijak dalam beragama dan berinteraksi,” ujar beliau di hadapan para siswa.
Lebih lanjut, Hj. Fakihah menjelaskan bahwa moderasi beragama mengajarkan empat nilai utama, yakni toleransi, keadilan, cinta damai, dan gotong royong. Keempat nilai itu menjadi pondasi penting untuk membangun suasana belajar yang harmonis di madrasah. Ia juga mencontohkan penerapan sikap moderat di lingkungan sekolah, seperti tidak mengejek teman yang berbeda, menghargai kegiatan ibadah, serta bekerja sama dalam kebaikan tanpa memandang latar belakang.
Antusiasme siswa terlihat jelas. Mereka menyimak dengan saksama, mencatat hal-hal penting, dan sesekali mengangguk memahami penjelasan. Bagi mereka, kegiatan semacam ini bukan sekadar penyuluhan, tetapi pembelajaran hidup tentang bagaimana menjadi bagian dari masyarakat yang beradab dan damai.

Koordinator Kesiswaan H. Bahrudin menyampaikan materi penanaman karakter dan akhlakul karimah disertai tayangan ayat Al-Qur’an.
Setelah sesi pertama, kegiatan berlanjut dengan istirahat pada pukul 09.15 WIB yang diisi dengan Makan MBG Bersama, sebuah tradisi khas madrasah untuk mempererat kebersamaan antar-siswa. Seusai jeda, acara dilanjutkan dengan pembinaan karakter dan akhlakul karimah oleh Koordinator Kesiswaan, H. Bahrudin. Dengan gaya komunikatif dan penuh keteladanan, beliau mengajak para siswa memahami makna iman yang diwujudkan melalui perilaku jujur, sopan, dan bertanggung jawab.
“Anak madrasah itu harus dikenal santun dan jujur, baik di rumah maupun di sekolah. Itulah wajah Islam yang sebenarnya,” tegasnya.
Melalui tayangan materi yang menampilkan potongan ayat Al-Qur’an dan contoh kehidupan sehari-hari, H. Bahrudin mengajak siswa untuk merenungi bahwa keimanan sejati selalu disertai amal saleh dan perbuatan baik terhadap sesama. Pesan itu disampaikan dengan ringan namun mengena, membekas dalam ingatan anak-anak yang duduk menyimak dengan mata berbinar.
Kegiatan ditutup dengan salat Zuhur berjamaah di madrasah. Momen spiritual itu menjadi penegasan bahwa setiap ilmu yang dipelajari di MIN 5 Bandar Lampung selalu berakar pada nilai-nilai religius dan moral. Suasana kebersamaan antara guru dan siswa memperlihatkan bagaimana pendidikan di madrasah tidak hanya menanamkan kecerdasan intelektual, tetapi juga membangun karakter dan kedewasaan beragama.
Dengan terselenggaranya pembinaan ini, MIN 5 Bandar Lampung meneguhkan diri sebagai madrasah yang berkomitmen melahirkan generasi Qurani yang moderat, toleran, dan cinta perdamaian. Di tengah keragaman bangsa, madrasah terus menjadi ruang belajar nilai-nilai kebangsaan yang berpadu dengan keimanan, menumbuhkan anak-anak yang siap menjadi agen harmoni dan penjaga kedamaian di masa depan. ( Septiano/ Humas)


