dutacendikia.id, Bandar Lampung – Pagi itu, halaman MIN 1 Bandar Lampung dipenuhi warna. Ratusan siswa berdiri berjajar, sebagian memegang poster buatan tangan, sebagian lainnya menggenggam selebaran berisi pesan sederhana namun kuat: “Bersama Kita Bebas dari Bullying.” Suasana yang hangat dan penuh semangat itu bukan sekadar kegiatan rutin sekolah, melainkan wujud nyata komitmen sebuah madrasah untuk melindungi dan membimbing setiap siswanya.
Deklarasi Anti Bullying dan Kekerasan yang digelar pada Senin (11/08) ini menjadi tonggak penting dalam perjalanan MIN 1 Bandar Lampung menuju predikat Madrasah Ramah Anak. Kegiatan tersebut dihadiri langsung Kepala Madrasah, Hizbuddin Burmelli, seluruh dewan guru, staf, dan siswa. Namun lebih dari sekadar acara formal, kegiatan ini terasa seperti perayaan kebersamaan—sebuah pernyataan bahwa setiap anak berhak tumbuh di lingkungan yang aman dan penuh kasih.
“Bullying adalah luka yang tak terlihat, tapi sangat menyakitkan,” ujar Hizbuddin dalam sambutannya. Pesan itu diucapkan dengan nada yang tegas namun penuh empati. Ia mengajak seluruh siswa untuk berani bersuara jika menjadi korban atau saksi. “Madrasah ini adalah rumah kita. Mari kita jaga bersama agar aman dan nyaman untuk semua,” tambahnya.

Penandatanganan ini menjadi simbol tekad bersama seluruh warga madrasah untuk menciptakan lingkungan belajar yang aman.
Koordinator Kesiswaan, Ustadz Roni, menjelaskan rangkaian kegiatan yang tersusun rapi: mulai dari pembacaan puisi dan lagu bertema anti-bullying oleh siswa, pembacaan komitmen bersama, penandatanganan dukungan oleh guru dan murid, hingga aksi nyata membagikan selebaran ke seluruh area sekolah. Semua dilakukan dengan melibatkan anak-anak secara aktif, sehingga pesan anti kekerasan tidak berhenti di ucapan, tetapi tertanam dalam perilaku sehari-hari.
Momen yang paling menyentuh terjadi saat siswa-siswi berdiri di tengah halaman, menyanyikan lagu tentang persatuan dan kesetiakawanan. Suara mereka, yang masih polos namun penuh keyakinan, seakan menjadi janji bahwa mereka akan saling menjaga. Bagi para guru, pemandangan itu menjadi pengingat bahwa pendidikan bukan hanya soal akademik, tetapi juga menumbuhkan empati dan rasa saling menghargai.
Lewat deklarasi ini, MIN 1 Bandar Lampung mengirim pesan jelas ke masyarakat: madrasah bukan hanya tempat belajar menghafal dan menghitung, tetapi juga ruang aman yang membentuk karakter anak. Sebuah tempat di mana setiap suara, sekecil apa pun, berhak didengar dan dihargai.


