dutacendikia.id, Lampung –Pernahkah kita berada di dalam kelas ketika guru bertanya, “Ada yang mau ditanyakan?”, tetapi tidak seorang pun mengangkat tangan? Ruangan mendadak hening. Beberapa saat kemudian, guru menyimpulkan bahwa seluruh siswa telah memahami materi dan pelajaran pun berlanjut.
Sekilas, tidak ada yang salah dengan situasi itu. Kelas tertib, siswa tenang, dan pembelajaran berjalan sebagaimana mestinya. Namun, di balik keheningan tersebut, mungkin ada siswa yang masih kebingungan, belum memahami penjelasan, atau sebenarnya ingin bertanya, tetapi tidak memiliki cukup keberanian untuk mengungkapkannya.
Diam tidak selalu berarti paham. Terkadang, diam justru menjadi cara seseorang menyembunyikan kesulitan yang tidak sanggup ia sampaikan.
Dalam dunia pendidikan, keheningan siswa semestinya tidak buru-buru dimaknai sebagai tanda keberhasilan pembelajaran. Ada siswa yang memilih diam karena sedang berpikir, ada yang merasa sudah memahami materi, dan ada pula yang menahan diri karena takut salah atau khawatir mendapat penilaian buruk dari orang lain.
Zhang, Fang, dan Rhee (2025), melalui penelitian mengenai perilaku diam di kelas pada mahasiswa Tiongkok dan Korea, menjelaskan bahwa diam tidak serta-merta menunjukkan ketidakaktifan mental atau penolakan untuk berpartisipasi. Keheningan dapat menjadi cara seseorang mengatur keterlibatannya dalam proses pembelajaran. Temuan ini mengingatkan kita bahwa perilaku siswa di kelas memiliki makna yang lebih beragam daripada yang tampak di permukaan.
Lantas, apakah sekolah sudah cukup peka untuk memahami bahasa yang tidak terucap itu?
Ketika Rasa Takut Mengalahkan Keinginan untuk Bertanya
Pratolo, Sakti, dan Bao (2024), dalam penelitian terhadap siswa kelas XI di sebuah SMK di Indonesia pada pembelajaran bahasa Inggris, mengidentifikasi sejumlah faktor yang memengaruhi kecenderungan siswa untuk diam. Faktor-faktor tersebut meliputi kecemasan, persepsi terhadap kemampuan akademik, rendahnya kepercayaan diri, motivasi belajar, dan kepribadian introver.
Meskipun penelitian tersebut berfokus pada pembelajaran bahasa Inggris, persoalan serupa patut menjadi perhatian dalam mata pelajaran lain, termasuk matematika. Bagi sebagian siswa, matematika bukan sekadar persoalan angka dan rumus. Mata pelajaran ini juga dapat menghadirkan tekanan ketika mereka merasa harus selalu memperoleh jawaban yang benar.
Bayangkan seorang siswa yang sebenarnya memahami materi, tetapi tidak berani menjawab pertanyaan guru karena takut keliru. Pengetahuan yang dimilikinya akhirnya tidak pernah terlihat. Guru mungkin menganggapnya kurang menguasai pelajaran, padahal persoalan utamanya bukan semata-mata kemampuan akademik, melainkan keberanian untuk menunjukkan kemampuan tersebut.
Ketakutan terhadap kesalahan dapat membuat siswa memilih diam sebagai cara paling aman. Jawaban yang disampaikan di depan kelas terasa seperti sesuatu yang harus dipertanggungjawabkan di hadapan banyak orang. Ketika kesalahan ditanggapi dengan ejekan teman atau respons guru yang membuat siswa malu, pengalaman tersebut dapat memperkuat keengganan untuk berbicara pada kesempatan berikutnya.
Dalam konteks ini, konsep efikasi diri yang dikemukakan Albert Bandura (1977) menjadi relevan. Efikasi diri berkaitan dengan keyakinan seseorang terhadap kemampuannya dalam menyelesaikan tugas atau menghadapi situasi tertentu. Keyakinan tersebut turut memengaruhi usaha dan ketekunan seseorang ketika menghadapi kesulitan.
Siswa yang terus-menerus meyakini dirinya tidak mampu memahami matematika dapat kehilangan dorongan untuk mencoba. Ia mungkin enggan bertanya karena merasa pertanyaannya tidak penting, atau memilih tidak menjawab karena sudah membayangkan kemungkinan salah sebelum mencoba.
Jika keadaan semacam ini dibiarkan, kelas berisiko menjadi ruang tempat siswa belajar menghindari kesalahan, bukan ruang yang membantu mereka memahami kesalahan dan memperbaiki diri.
Kelas yang Tertib Belum Tentu Menjadi Kelas yang Aman
Keheningan siswa tidak sepenuhnya dapat dijelaskan melalui karakter pribadi. Lingkungan belajar turut memengaruhi keputusan seseorang untuk berbicara atau menahan pendapatnya.
Zhang dkk. (2025) menemukan bahwa perilaku diam mahasiswa Tiongkok berkaitan dengan struktur kelas yang hierarkis dan berpusat pada guru. Sementara itu, pada mahasiswa Korea, norma gender dan harapan teman sebaya menjadi faktor yang lebih menonjol. Perbedaan konteks tersebut menunjukkan bahwa hubungan sosial dan budaya kelas ikut membentuk cara siswa berpartisipasi.
Temuan itu memang tidak dapat diterapkan begitu saja pada seluruh situasi pendidikan di Indonesia. Namun, ada satu hal yang layak direnungkan: ketika ruang kelas terlalu menekankan kepatuhan dan menempatkan guru sebagai satu-satunya pusat pengetahuan, siswa dapat merasa bahwa berbicara membawa risiko yang tidak perlu mereka ambil.
Di sisi lain, kita masih kerap menilai keterlibatan siswa melalui hal-hal yang mudah terlihat. Nilai ujian, kehadiran, dan frekuensi menjawab pertanyaan menjadi ukuran yang relatif mudah dicatat. Siswa yang aktif berbicara lebih mudah dikenali, sedangkan siswa yang tenang sering kali dianggap tidak memiliki masalah selama ia mengikuti pelajaran dan tidak mengganggu kelas.
Padahal, ketenangan yang terlihat dari luar tidak selalu mencerminkan keadaan yang sebenarnya. Ada siswa yang nyaman belajar dalam suasana hening, tetapi ada pula yang sedang berjuang memahami materi tanpa mengetahui bagaimana cara meminta bantuan.
Meski demikian, penting untuk tidak menganggap semua siswa pendiam sedang mengalami kesulitan. Diam juga dapat menjadi bagian dari proses berpikir, cara mengamati, atau bentuk partisipasi yang memang lebih sesuai dengan karakter seseorang. Tidak semua anak harus menjadi pribadi yang vokal agar dapat dikatakan aktif dalam pembelajaran.
Persoalannya bukan bagaimana membuat semua siswa berbicara, melainkan bagaimana memastikan setiap siswa memiliki kesempatan yang adil untuk menunjukkan pemahaman, menyampaikan kesulitan, dan terlibat dalam pembelajaran tanpa rasa takut.
Mendengarkan Siswa Tidak Harus Selalu Melalui Kata-Kata
Lalu, apa yang dapat dilakukan sekolah untuk menjawab persoalan ini?
Langkah awalnya mungkin sederhana: mengubah cara guru memahami keheningan. Ketika tidak ada siswa yang menjawab pertanyaan, guru tidak perlu langsung menyimpulkan bahwa semua telah memahami materi. Memberikan waktu untuk berpikir, mengajukan pertanyaan dengan cara berbeda, atau meminta siswa menuliskan bagian yang belum dipahami dapat menjadi jalan untuk mengetahui kondisi kelas secara lebih utuh.
Pratolo dkk. (2024) merekomendasikan penguatan positif, penciptaan suasana belajar yang aman, diskusi kelompok kecil, dan refleksi tertulis bagi siswa yang cenderung pendiam. Dalam pembelajaran matematika, misalnya, siswa dapat diberi kesempatan mendiskusikan jawaban bersama teman sebelum menyampaikannya kepada seluruh kelas. Mereka juga dapat menuliskan pertanyaan secara anonim apabila belum nyaman mengungkapkannya secara langsung.
Cara-cara tersebut tidak menjamin seluruh persoalan akan selesai. Namun, pendekatan yang memberi ruang bagi beragam bentuk partisipasi dapat membantu mengurangi tekanan yang dirasakan siswa ketika harus berbicara di depan kelas.
Respons guru terhadap kesalahan juga penting. Jawaban yang belum tepat seharusnya menjadi bagian dari proses belajar, bukan alasan untuk mempermalukan siswa. Ketika usaha berpikir dihargai dan kesalahan diperlakukan sebagai kesempatan untuk memperbaiki pemahaman, siswa memiliki ruang untuk mencoba tanpa harus selalu merasa terancam oleh penilaian orang lain.
Perhatian terhadap siswa yang diam juga tidak dapat dibebankan sepenuhnya kepada guru mata pelajaran. Sekolah perlu membangun lingkungan yang mendukung keterlibatan siswa, termasuk melalui peran guru bimbingan dan konseling serta pengembangan kemampuan pendidik dalam mengenali kebutuhan belajar dan emosional peserta didik.
Tentu, guru menghadapi keterbatasan waktu, jumlah siswa, dan tuntutan penyelesaian materi. Karena itu, kepedulian terhadap siswa perlu ditopang oleh kebijakan dan budaya sekolah yang memungkinkan perhatian tersebut dijalankan secara nyata.
Menjadi Guru Berarti Belajar Membaca yang Tidak Terucap
Sebagai mahasiswa calon guru matematika, persoalan ini menjadi pengingat bagi saya sendiri. Kelak, ketika berdiri di depan kelas dan bertanya apakah siswa sudah memahami materi, saya tidak ingin menjadikan keheningan sebagai satu-satunya dasar untuk menyimpulkan bahwa pembelajaran telah berhasil.
Saya perlu belajar memperhatikan lebih banyak hal: bagaimana siswa mengerjakan soal, bagian mana yang berulang kali membuat mereka berhenti, bagaimana mereka mengikuti penjelasan, serta apakah mereka memiliki ruang yang cukup untuk menyampaikan kesulitan. Pengamatan tersebut tentu tidak dapat menggantikan komunikasi langsung, tetapi dapat menjadi awal untuk memahami kebutuhan siswa dengan lebih baik.
Menjadi guru bukan hanya tentang kemampuan menjelaskan materi. Ada tanggung jawab untuk menciptakan ruang belajar yang memungkinkan siswa bertanya tanpa merasa bodoh, menjawab tanpa takut dipermalukan, dan mengakui ketidakpahaman tanpa kehilangan harga diri.
Pada akhirnya, sekolah yang memperhatikan siswanya tidak cukup hanya memastikan kelas berjalan tertib dan materi tersampaikan. Sekolah juga perlu melihat pengalaman belajar dari sudut pandang peserta didik, termasuk mereka yang jarang mengangkat tangan dan tidak terbiasa mengungkapkan kesulitannya.
Sebab, di dalam kelas, suara bukan satu-satunya tanda bahwa seseorang sedang belajar. Terkadang, ada kebingungan yang belum menemukan kata-kata, ada pertanyaan yang tertahan oleh rasa takut, dan ada kemampuan yang belum memperoleh kesempatan untuk terlihat.
Mungkin, tugas seorang pendidik bukan membuat semua siswa bersuara, melainkan memastikan tidak ada siswa yang merasa harus terus diam agar dapat bertahan di dalam kelas. (Septiano)
Oleh: Vina Annisatul Mufidah
Mahasiswa Tadris Matematika UIN Jurai Siwo Lampung


