Literasi Nasional Umum
Beranda / Umum / KH. Yusuf Hasyim: Cahaya Abadi yang Menuntun Jalan Madrasah

KH. Yusuf Hasyim: Cahaya Abadi yang Menuntun Jalan Madrasah

oleh : Kepala Bidang Pendidikan Madrasah Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Lampung, H. Ahmad Rifai, S.E., M.M.

dutacendikia.id, Lampung –  KH. Yusuf Hasyim adalah sosok ulama kharismatik dari keluarga besar Hadratussyaikh KH. Hasyim Asy’ari, pendiri Nahdlatul Ulama. Beliau bukan hanya pemikir, pendidik, dan pengasuh santri di Pesantren Tebuireng, tetapi juga seorang pejuang yang berada di garis depan dalam mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia.

Dalam lintasan sejarah, KH. Yusuf Hasyim terlibat langsung dalam konsolidasi kekuatan santri dan umat Islam pasca proklamasi 1945, khususnya saat bangsa ini menghadapi ancaman kembalinya kolonialisme Belanda. Beliau bersama para ulama dan santri bergerak menyalakan api perjuangan jihad fi sabilillah, berlandaskan pada fatwa Resolusi Jihad yang dikeluarkan oleh KH. Hasyim Asy’ari pada 22 Oktober 1945. Resolusi ini menjadi panggilan moral dan religius yang mendorong rakyat, terutama kalangan santri, untuk berjihad mempertahankan kemerdekaan.

Dari sinilah relevansi peran besar beliau kemudian mendapat pengakuan negara. Penganugerahan Bintang Mahaputera Utama kepada KH. Yusuf Hasyim adalah bentuk penghormatan negara terhadap jasa-jasanya yang luar biasa dalam sejarah perjuangan bangsa. Bintang Mahaputera Utama merupakan salah satu tanda kehormatan tertinggi Republik Indonesia yang diberikan kepada warga negara yang berjasa besar dalam mempertahankan, memajukan, dan memperkuat kedaulatan bangsa.

Acara penganugerahan ini berlangsung di Istana Negara, Jakarta, pada 25 Agustus 2025, sebagai bagian dari pemberian tanda kehormatan kepada 141 tokoh, termasuk sejumlah ulama besar yang dihormati oleh umat. Presiden Prabowo Subianto secara pribadi menyematkan tanda kehormatan, sementara ahli waris—termasuk KH. Irfan Yusuf mewakili almarhum KH. Yusuf Hasyim—menerimanya atas nama beliau.

Tarisa Airia Dzie Izza Harumkan MTsN 2 Bandar Lampung, Diterima di SMA Kemala Taruna Bhayangkara

Penghargaan ini menandai pengakuan publik atas peran penting pesantren dan tokoh NU dalam menjaga persatuan dan membimbing umat—sebuah warisan yang hari ini tetap relevan dalam konteks pendidikan madrasah.

Peristiwa Revolusi Jihad 1945 merupakan tonggak utama perlawanan bangsa yang dipelopori para ulama. KH. Yusuf Hasyim menjadi motor penggerak di lapangan, memimpin laskar-laskar santri untuk menghadapi agresi militer Belanda. Dengan semangat hubbul wathan minal iman (cinta tanah air adalah sebagian dari iman), beliau membangkitkan kesadaran kolektif bahwa mempertahankan kemerdekaan adalah kewajiban agama dan bangsa.

Peran tersebut memperlihatkan bagaimana pesantren tidak hanya berfungsi sebagai pusat pendidikan agama, melainkan juga pusat perlawanan dan pembentukan karakter kebangsaan. Semangat jihad fi sabilillah yang digelorakan KH. Yusuf Hasyim menegaskan bahwa santri adalah pejuang yang rela mengorbankan jiwa dan raganya demi tegaknya kemerdekaan.

Pengakuan negara melalui Bintang Mahaputera Utama kepada KH. Yusuf Hasyim bukan hanya penghargaan personal, tetapi juga pengakuan kolektif terhadap peran santri dan ulama dalam sejarah Indonesia. Warisan perjuangan beliau menjadi inspirasi bagi generasi muda, terutama kalangan pesantren, untuk tetap menjunjung tinggi nilai jihad dalam makna kontekstual: jihad melawan kebodohan, kemiskinan, dan segala bentuk penjajahan modern.

Keteladanan KH. Yusuf Hasyim dalam menjaga martabat bangsa itu, pada akhirnya menemukan gaungnya dalam ruang-ruang pendidikan kita hari ini. Madrasah menjadi saksi bagaimana warisan jihad beliau diterjemahkan dalam bentuk pengabdian ilmu, moral, dan kebangsaan.

Kemenag Bandar Lampung Datangi Rumah Siswa MIN 12 Korban Banjir, Beri Santunan dan Semangat

Sebagaimana pesantren dahulu menjadi pusat perjuangan revolusi, madrasah hari ini lahir sebagai lembaga pembawa estafet spiritual dan kebangsaan. Di sinilah santri dan siswa madrasah ditanamkan kecintaan pada ilmu, budi pekerti luhur, serta martabat berbangsa. Madrasah adalah laboratorium yang membentuk generasi cendekia, religius, dan patriotik—warisan seutuhnya jihad KH. Yusuf Hasyim dalam konteks abad ke-21.

Narasi tentang KH. Yusuf Hasyim dan anugerah Bintang Mahaputera Utama ini adalah bukti bahwa perjuangan kemerdekaan tidak bisa dilepaskan dari peran ulama dan santri. Beliau adalah pejuang utama yang menjadikan jihad fi sabilillah sebagai energi revolusi, dan pengakuan negara melalui penghargaan ini adalah wujud konkret penghormatan terhadap darah, keringat, dan doa para santri yang menjadi tonggak revolusi jihad. Kini, madrasah menjadi tempat perwujudan modern dari jihad tersebut—sebagai wahana pendidikan, karakter, dan kecintaan terhadap tanah air.

Berita Populer






× Advertisement
× Advertisement