Nasional Opini Pendidikan
Beranda / Pendidikan / Siapa yang Menjaga Ketika Algoritma yang Membesarkan?

Siapa yang Menjaga Ketika Algoritma yang Membesarkan?

dutacendikia.id, Bandar Lampung – Gen Alpha, anak-anak yang lahir setelah tahun 2010, kini tumbuh dalam lingkungan digital yang lebih kompleks dari generasi sebelumnya. Keakraban mereka terhadap teknologi, terutama media sosial seperti TikTok, memberi ruang bagi kreativitas sekaligus menjadi pintu terbuka menuju paparan konten yang jauh melampaui usia mereka.

Video cover dance dengan gerakan erotis, lagu dengan lirik eksplisit, hingga pembahasan isu gosip selebritas yang vulgar—semua tersaji dalam satu guliran jempol. Tak ada filter yang cukup kuat jika orang tua lengah. Bahkan, survei dari Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) tahun 2023 menunjukkan bahwa 63% anak usia 8–13 tahun mengakses TikTok lebih dari 2 jam per hari, dan hampir 40% di antaranya pernah melihat konten yang tidak sesuai usia.

Paparan ini menimbulkan paradoks. Di satu sisi, media sosial memberi ruang bagi anak-anak untuk mengembangkan kreativitas: menyanyi, menari, menggambar, bahkan menyuarakan opini. Beberapa dari mereka bahkan sudah memiliki ribuan hingga jutaan pengikut, menjelma sebagai “selebgram cilik” atau “content creator anak”.

“Anak-anak sekarang punya kemampuan digital luar biasa. Tapi kemampuan memilah mana yang layak konsumsi belum sejalan,” ujar Dr. Sylvia Marlina, psikolog perkembangan anak dari UI.

Kelebihan ini berubah jadi ancaman ketika platform seperti TikTok—meski punya fitur Family Pairing atau mode Restricted Content—tetap memiliki celah. Algoritma TikTok cenderung menampilkan konten yang sedang viral, bukan yang edukatif. Anak-anak yang menonton satu video dansa sensual, akan direkomendasikan video serupa tanpa henti.

Tarisa Airia Dzie Izza Harumkan MTsN 2 Bandar Lampung, Diterima di SMA Kemala Taruna Bhayangkara

Fenomena ini memunculkan perubahan pada pola pikir dan gaya hidup anak-anak. Mereka lebih cepat mengenal istilah-istilah dewasa, terpengaruh mode dan gaya hidup selebriti, bahkan menjadikan konten viral sebagai tolok ukur popularitas.

“Ini bukan sekadar tontonan, tapi jadi identitas. Anak-anak merasa harus mengikuti tren agar dianggap keren,” kata Rini Widiyastuti, guru di sebuah SD swasta di Bandar Lampung.

Namun di balik itu, muncul kekhawatiran akan hilangnya fase perkembangan yang seharusnya penuh dengan imajinasi polos dan aktivitas bermain fisik. Anak-anak kini lebih sering ‘scroll’ daripada ‘berlari’, lebih mengenal nama idol Korea daripada nama pahlawan bangsa.

Tanggung Jawab Siapa?

Kondisi ini menyisakan pertanyaan besar: siapa yang harus bertanggung jawab?

Kemenag Bandar Lampung Datangi Rumah Siswa MIN 12 Korban Banjir, Beri Santunan dan Semangat

  1. Orang Tua perlu memahami bahwa memberi gadget bukan hanya tentang membeli alat, tetapi juga soal mengawal isi. Sayangnya, Survei Katadata Insight Center (2024) menyebut hanya 22% orang tua yang rutin mengawasi konten yang dikonsumsi anak.
  2. Pemerintah dan Regulator Konten masih tertinggal dalam menegakkan batas usia. Meski TikTok mengklaim punya moderasi konten dan batas usia minimal 13 tahun, nyatanya banyak anak usia di bawahnya yang bebas membuat akun hanya dengan memalsukan tahun lahir.
  3. Sekolah dan Lembaga Pendidikan masih minim dalam kurikulum literasi digital. Padahal, pendidikan tentang etika bermedia dan keamanan digital seharusnya diperkenalkan sejak dini.
  4. Platform Digital cenderung reaktif. Selama konten viral membawa engagement dan traffic, kepedulian terhadap dampaknya pada anak-anak seringkali menjadi urusan belakangan.

Alih-alih menutup akses secara total, para ahli menyarankan pendekatan literasi digital sejak dini. Anak-anak harus dibekali pemahaman tentang mana konten yang sehat dan mana yang merusak. Mereka juga harus tahu bahwa eksistensi di media sosial bukan segalanya.

Pemerintah bisa mendorong program Sekolah Ramah Digital, sementara orang tua bisa menggunakan waktu bersama anak untuk menonton dan berdiskusi tentang apa yang mereka lihat.

Masa kecil seharusnya menjadi ruang belajar yang menyenangkan, bukan ajang unjuk gaya yang terlalu dini. Kreativitas anak perlu diarahkan, bukan dibiarkan liar di jalur viralitas.

Jika generasi ini tumbuh dengan nilai-nilai yang terlalu cepat dewasa namun belum matang secara emosional, maka yang kita hadapi bukan hanya krisis moral, tapi juga krisis identitas anak-anak di masa depan.

 

Bahasa Lampung Menggema di MIN 12 Bandar Lampung, Apel Pagi Jadi Ruang Rawat Identitas

 

 

Berita Populer






× Advertisement
× Advertisement