Opini Pendidikan
Beranda / Pendidikan / AKGTK dan Cermin Kompetensi Guru: Mengapa Memahami Psikologi Pembelajaran Penting bagi Guru Madrasah?

AKGTK dan Cermin Kompetensi Guru: Mengapa Memahami Psikologi Pembelajaran Penting bagi Guru Madrasah?

dutacendikia.id, Lampung – Guru madrasah kembali mengambil posisi sebagai pembelajar melalui pelaksanaan Asesmen Kompetensi Guru dan Tenaga Kependidikan (AKGTK) Madrasah Tahun 2026. Kegiatan yang dilaksanakan secara nasional pada 5–9 Oktober 2026 tersebut menjadi bagian dari upaya memperoleh gambaran sekaligus pemetaan kompetensi guru dan tenaga kependidikan madrasah. 

Pelaksanaan AKGTK dilakukan secara daring menggunakan perangkat komputer atau laptop dengan aplikasi Safe Exam Browser (SEB). Peserta mengikuti jadwal, sesi, dan penugasan yang telah ditentukan melalui akun EMIS GTK masing-masing. 

AKGTK tidak diperuntukkan hanya bagi guru kelas maupun guru mata pelajaran. Kepala madrasah, pengawas madrasah, tenaga perpustakaan, dan tenaga laboratorium juga menjadi bagian dari asesmen dengan materi yang disesuaikan dengan tugas dan tanggung jawab masing-masing. 

Bagi guru kelas jenjang MI, misalnya, komponen asesmen mencakup kompetensi pedagogik yang meliputi literasi, numerasi, dan sains, kompetensi profesional, serta moderasi beragama. Guru mata pelajaran memperoleh materi yang berkaitan dengan kompetensi pedagogik, kompetensi profesional sesuai mata pelajaran yang diampu, dan moderasi beragama. 

Lebih dari sekadar proses menjawab soal, AKGTK dapat dibaca sebagai ruang refleksi bagi guru. Hasil asesmen diarahkan untuk membentuk profil kompetensi yang dapat digunakan sebagai bahan evaluasi diri sekaligus menjadi salah satu dasar penyusunan program Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan (PKB). 

Ukur Kompetensi Guru, MIN 2 Bandar Lampung Ikuti AKGTK

Perspektif psikologi pembelajaran memberi makna lain terhadap proses tersebut. Guru pada dasarnya juga merupakan pembelajar sepanjang hayat. Ketika mengikuti asesmen, guru berhadapan dengan proses yang sangat manusiawi, mulai dari rasa ingin tahu dan percaya diri hingga kemungkinan munculnya kecemasan. Pada saat yang sama, asesmen menghadirkan kesempatan untuk melihat kembali kemampuan diri secara lebih objektif. 

Perubahan karakter peserta didik, perkembangan teknologi, perubahan kurikulum, serta dinamika masyarakat membuat kompetensi guru perlu terus diperbarui. Pengalaman mengajar dan lamanya seseorang berada di ruang kelas tidak dengan sendirinya membuat proses belajar seorang guru selesai. Budaya belajar sepanjang hayat menjadi bagian penting dari profesionalitas pendidik. 

Karena itu, hasil AKGTK semestinya tidak berhenti pada angka. Ketika terdapat kompetensi yang belum optimal, hasil tersebut dapat menjadi titik awal untuk belajar kembali melalui membaca, berdiskusi dengan rekan sejawat, mengikuti KKG atau MGMP, mencoba strategi pembelajaran baru, melakukan refleksi, maupun mengikuti pelatihan. 

Pada akhirnya, kualitas guru tidak semata-mata terlihat dari kemampuannya menyelesaikan asesmen. Hal yang lebih penting ialah bagaimana hasil asesmen tersebut mendorong perubahan dalam praktik pembelajaran. Guru yang terus belajar akan memiliki ruang lebih luas untuk menyesuaikan diri dengan kebutuhan peserta didik dan menghadirkan pembelajaran yang semakin bermakna.

AKGTK 2026 dengan demikian dapat ditempatkan sebagai salah satu momentum untuk memperkuat budaya refleksi dan pengembangan kompetensi di lingkungan madrasah. Sebab guru yang baik bukanlah guru yang merasa telah mengetahui semuanya, melainkan guru yang menyadari bahwa dirinya pun harus terus belajar. Pada akhirnya, peningkatan kompetensi guru bermuara pada satu tujuan yang lebih besar: menghadirkan pembelajaran yang bermakna bagi peserta didik di madrasah. (Alfa)

Guru MIN 9 Bandarlampung Ikuti AKG, Perkuat Pemetaan Kompetensi Pendidik Madrasah

Oleh: Fandi Israwan

Mahasiswa S2 PAI UIN Jurai Siwo Lampung

Berita Populer






× Advertisement
× Advertisement