Opini Pendidikan
Beranda / Pendidikan / Belajar Tidak Selalu Dimulai dari Buku: Memaknai Hari Batik Nasional dalam Psikologi Pembelajaran Peserta Didik Madrasah

Belajar Tidak Selalu Dimulai dari Buku: Memaknai Hari Batik Nasional dalam Psikologi Pembelajaran Peserta Didik Madrasah

dutacendikia.id, Lampung Selatan – Hari ini, 2 Oktober 2026, Indonesia kembali memperingati Hari Batik Nasional. Di sekolah dan madrasah, peringatan tersebut lazim ditandai dengan satu pemandangan sederhana: peserta didik dan guru mengenakan pakaian batik.

Sekilas, tidak ada yang istimewa. Anak-anak datang ke madrasah dengan pakaian bermotif batik, mengikuti pembelajaran seperti biasa, kemudian pulang. Namun, jika dilihat dari perspektif psikologi pembelajaran, ada pertanyaan yang menarik untuk diajukan: apakah belajar hanya terjadi ketika guru menjelaskan materi dan peserta didik membuka buku?

Tentu tidak.

Peserta didik belajar melalui berbagai pengalaman. Mereka belajar ketika mengamati lingkungan, berinteraksi dengan orang lain, merasakan sesuatu, menemukan hal yang menarik perhatian, bahkan ketika berusaha memahami sesuatu yang dekat dengan kehidupan sehari-hari.

Di titik inilah batik memiliki relevansi dengan psikologi pembelajaran.

MIN 1 Bandar Lampung Peringati Hari Kesaktian Pancasila, Teguhkan Persatuan dan Karakter Generasi Madrasah

Dari Pakaian Menjadi Pengalaman Belajar

Batik bukan sekadar kain bermotif. Di dalamnya terdapat sejarah, kreativitas, nilai budaya, identitas daerah, serta perjalanan panjang masyarakat Indonesia dalam menjaga warisan budaya.

Ketika seorang peserta didik mengenakan batik, sebenarnya ia sedang berhadapan dengan sebuah objek yang sangat dekat dengan dirinya. Pakaian yang dikenakan dapat menjadi stimulus untuk membangun rasa ingin tahu.

Mengapa motifnya berbeda-beda? Dari mana asal motif tersebut? Mengapa masyarakat Indonesia perlu menjaga batik? Apa hubungannya dengan daerah tempat tinggal kita?

Pertanyaan-pertanyaan sederhana semacam itu dapat menjadi pintu masuk menuju proses belajar yang bermakna.

MIN 2 Bandar Lampung Gelar Upacara Hari Kesaktian Pancasila

Dalam psikologi pembelajaran, perhatian dan pengalaman awal memiliki peran penting dalam proses seseorang memperoleh pengetahuan. Sesuatu yang dekat, nyata, dan relevan dengan kehidupan peserta didik cenderung lebih mudah menarik perhatian dibandingkan sesuatu yang sepenuhnya abstrak.

Karena itu, Hari Batik Nasional sebenarnya dapat dimaknai lebih jauh dari sekadar agenda seremonial. Ia dapat menjadi sebuah pengalaman belajar.

Ketika Anak Tidak Hanya Mengetahui, tetapi Juga Merasakan

Pembelajaran sering kali terlalu mudah diukur melalui pertanyaan: apakah anak sudah tahu?

Padahal, perkembangan peserta didik tidak hanya berkaitan dengan aspek kognitif. Ada aspek afektif dan sosial yang turut membentuk cara anak memandang dirinya, orang lain, serta lingkungan di sekitarnya.

MIN 11 Bandar Lampung Peringati Hari Kesaktian Pancasila, Tanamkan Karakter Religius dan Nasionalis

Seorang anak mungkin mengetahui bahwa batik merupakan warisan budaya Indonesia. Namun, mengetahui saja belum tentu membuatnya memiliki rasa terhadap budaya tersebut.

Pengalaman menjadi penting ketika pengetahuan hendak dibawa lebih jauh. Saat anak mengenakan batik, melihat teman-temannya menggunakan motif yang berbeda, mendengarkan cerita tentang sejarah batik, atau mencoba menggambar dan membuat motif sederhana, pengetahuan budaya dapat berubah menjadi pengalaman personal.

Dari pengalaman itu dapat tumbuh rasa menghargai, rasa memiliki, dan kebanggaan terhadap budaya sendiri.

Dengan demikian, pembelajaran tidak berhenti pada kalimat “saya tahu batik”, tetapi bergerak menuju pemahaman “saya mengerti mengapa batik penting” dan pada akhirnya “saya ingin ikut menjaganya”.

Batik dan Pembentukan Identitas Peserta Didik

Peserta didik madrasah berada dalam tahap perkembangan ketika mereka mulai mengenal dirinya, lingkungan sosial, serta kelompok yang menjadi bagian dari kehidupannya. Sekolah dan madrasah memiliki posisi penting dalam proses tersebut.

Ketika budaya lokal dan nasional hadir dalam pembelajaran, peserta didik memperoleh kesempatan untuk memahami bahwa dirinya bukan individu yang berdiri sendiri. Ia merupakan bagian dari keluarga, masyarakat, daerah, bangsa, dan kebudayaan yang lebih luas.

Batik dapat menjadi salah satu media sederhana untuk membangun kesadaran tersebut.

Di MIN 6 Lampung Selatan, misalnya, momentum Hari Batik Nasional dapat dikembangkan untuk mengajak peserta didik tidak sekadar memakai batik, tetapi juga mengenal keberagaman budaya yang ada di lingkungan mereka. Guru dapat mengajak anak mengamati motif batik yang dikenakan, mencari tahu asal-usulnya, menghubungkannya dengan lingkungan sekitar, kemudian menuangkannya dalam gambar atau cerita.

Aktivitas sederhana tersebut dapat mempertemukan unsur pengetahuan, kreativitas, komunikasi, serta perkembangan sosial-emosional dalam satu pengalaman belajar.

Belajar yang Dekat dengan Kehidupan Anak

Salah satu tantangan pembelajaran adalah bagaimana membuat materi yang dipelajari terasa memiliki hubungan dengan kehidupan peserta didik.

Batik memberikan contoh bahwa pembelajaran bermakna tidak selalu membutuhkan sesuatu yang rumit. Guru tidak harus selalu membawa teknologi canggih ke dalam kelas. Tidak semua pembelajaran harus dimulai dari layar, aplikasi, atau buku digital.

Kadang-kadang, pembelajaran dapat dimulai dari sesuatu yang sedang dikenakan oleh peserta didik.

Dari batik, guru dapat membawa anak belajar Bahasa Indonesia melalui kegiatan menulis deskripsi motif. Matematika dapat hadir melalui pola dan bentuk. Seni melalui kegiatan menggambar motif. IPAS dan IPS dapat masuk melalui pembahasan lingkungan dan budaya. Pendidikan Pancasila dapat dikaitkan dengan keberagaman dan identitas kebangsaan.

Bahkan, pembelajaran PAI dapat diarahkan pada nilai syukur, penghargaan terhadap karya manusia, menjaga amanah budaya, serta membangun sikap menghargai sesama. Satu objek sederhana ternyata dapat menjadi titik temu berbagai pengalaman belajar.

Dari Hari Batik Menuju Pembelajaran yang Lebih Manusiawi

Peringatan Hari Batik Nasional mengingatkan kita bahwa peserta didik bukan sekadar kumpulan angka dalam daftar nilai. Mereka adalah manusia yang memiliki rasa ingin tahu, emosi, pengalaman, lingkungan sosial, budaya, dan identitas yang sedang berkembang.

Karena itu, pembelajaran yang baik tidak cukup hanya bertanya, “Apa yang sudah dipahami anak?”

Ada pertanyaan lain yang tidak kalah penting: apa yang dirasakan anak? Pengalaman apa yang diperolehnya? Nilai apa yang tumbuh dalam dirinya?

Batik mungkin hanya selembar kain. Namun, bagi dunia pendidikan, ia dapat menjadi pintu masuk menuju pembelajaran yang lebih dekat dengan kehidupan peserta didik.

Pada akhirnya, salah satu esensi Hari Batik Nasional di madrasah bukan sekadar mengajak anak mengenakan batik selama satu hari. Momentum tersebut dapat digunakan untuk membantu mereka mengenal budaya, memahami identitas, membangun rasa memiliki, dan belajar menghargai sesuatu yang diwariskan dari generasi sebelumnya.

Sebab, belajar tidak selalu dimulai dari buku.

Kadang-kadang, belajar justru dimulai dari sesuatu yang paling dekat dengan kita—bahkan dari pakaian yang sedang kita kenakan.

 

Oleh: Fandi Israwan
Mahasiswa S2 UIN Jurai Siwo Lampung

Berita Populer






× Advertisement
× Advertisement