Oleh: H. Aprizandi, S.Fil.I., M.Kom.
Kasi Penmad Kemenag Kabupaten Lampung Selatan
dutacendikia.id, Lampung Selatan – Ada momen tertentu dalam perjalanan bangsa yang membuat kita menundukkan kepala, bukan karena duka, melainkan karena rasa hormat yang begitu dalam. Salah satunya adalah ketika Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, menganugerahkan Bintang Mahaputra Utama kepada almarhum KH. Yusuf Hasyim pada 25 Agustus 2025.
KH. Yusuf Hasyim bukanlah sekadar putra Hadratussyaikh KH. Hasyim Asy’ari, pendiri Nahdlatul Ulama, tetapi sosok yang membumikan perjuangan lewat jalan ilmu, pendidikan, dan pengabdian. Dari kepemimpinannya dalam Laskar Hizbullah hingga kiprah beliau dalam pesantren, KH. Yusuf menegaskan bahwa keislaman sejati adalah keislaman yang berpadu dengan kecintaan kepada tanah air.
Penghargaan negara berupa Bintang Mahaputra Utama ini adalah simbol pengakuan atas jasa yang tak ternilai. Namun lebih dari itu, penghargaan ini adalah pengingat bahwa jalan ilmu dan perjuangan spiritual merupakan bentuk tertinggi pengabdian kepada bangsa.
Bagi saya pribadi, ada tiga pesan utama yang bisa kita petik dari teladan beliau:
1. Warisan ulama adalah cahaya generasi.
KH. Yusuf Hasyim telah menunjukkan bahwa warisan ulama tidaklah diukur dari harta atau kedudukan, melainkan dari nilai-nilai luhur yang mereka tinggalkan: ilmu pengetahuan, akhlak yang mendidik, dan keberanian moral dalam menghadapi tantangan zaman. Filosof Yunani pernah mengatakan bahwa manusia mati meninggalkan jejak, sementara ulama meninggalkan “jalan”. Jalan itulah yang menjadi penerang generasi. Warisan seperti ini bersifat transenden: ia menembus ruang dan waktu, dan senantiasa relevan untuk setiap zaman.
2. Pendidikan adalah senjata peradaban.
Melalui pesantren dan madrasah, KH. Yusuf membuktikan bahwa pendidikan adalah investasi peradaban yang paling berharga. Ilmu bukan sekadar transfer pengetahuan, melainkan proses pembentukan watak dan karakter. Secara ilmiah, pendidikan membangun kesadaran kritis, melatih daya nalar, dan memupuk integritas sosial. Itulah mengapa pesantren sering disebut sebagai “subkultur” bangsa—karena di sanalah nilai-nilai luhur dipelihara, diperbarui, dan diturunkan dari generasi ke generasi. Pendidikan ala ulama tidak berhenti pada dimensi intelektual, tetapi juga menyentuh spiritual dan moralitas sosial.
3. Cinta tanah air adalah bagian dari iman.
Prinsip ini ditegaskan KH. Yusuf Hasyim baik melalui perjuangan fisik bersama Hizbullah maupun dalam kiprah intelektualnya. Nasionalisme yang beliau ajarkan tidak pernah tercerabut dari akar religiusitas. Justru, beliau menunjukkan bahwa iman dan nasionalisme adalah dua dimensi yang saling menguatkan: iman memberi makna pada perjuangan kebangsaan, dan nasionalisme memastikan agama hidup dalam ruang sosial yang merdeka. Inilah yang disebut sebagai sintesis luhur—antara spiritualitas dan kebangsaan—yang menjadikan perjuangan beliau relevan hingga kini.
Semoga penghormatan negara kepada KH. Yusuf Hasyim tidak berhenti sebagai seremoni protokoler, tetapi menjadi energi baru bagi kita semua untuk menebar ilmu, menegakkan akhlak, dan membangun generasi berkarakter yang siap menghadapi tantangan zaman.
Wallāhu a‘lam bish-shawāb.


