dutacendikia.id, Bandar Lampung – Sekolah menghubungi orang tua ketika ada masalah disiplin. Saat penagihan uang komite tiba. Ketika rapor dibagikan. Itulah satu-satunya titik sentuh antara dua institusi yang seharusnya berjalan beriringan. Hubungan sekolah dan keluarga di Indonesia tetap terasa kaku, dingin, penuh dengan asumsi saling tidak percaya. Padahal, sebuah kursus formal di Harvard University tentang keterlibatan keluarga dalam pendidikan kembali mengingatkan kita pada kebenaran mendasar: kesukselan anak tidak pernah ditentukan oleh apa yang terjadi di dalam ruang kelas saja.
Nahdliya Izzatul Mutammimah, mahasiswa Magister Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia di Universitas Lampung, adalah salah satu orang yang berani mengangkat isu ini ke permukaan. Ia mengikuti kursus “Introduction to Family Engagement in Education” yang diasuh oleh Dr. Karen Mapp di Harvard University, sebuah program yang mengeksplorasi bagaimana keluarga menjadi fondasi utama dalam menentukan masa depan belajar anak. Dari pembelajaran tersebut, Nahdliya menulis dengan tegas: berbagai riset dunia selama puluhan tahun membuktikan bahwa keluarga adalah fondasi paling utama. Sekolah hebat tanpa dukungan keluarga yang kuat tidak akan pernah menghasilkan perubahan yang berdampak panjang.
Masalahnya, pola pikir yang sempit tentang peran masing-masing institusi sudah tertanam dalam di dalam ekosistem pendidikan kita. Kepala sekolah dan guru sering kali membawa ego sektoral ketika berhadapan dengan orang tua. Ada hirarki tak terucapkan: sekolah sebagai pihak yang “tahu”, orang tua sebagai pihak yang “harus menerima”. Akibatnya, orang tua merasa takut, minder, dan cemas saat berhadapan dengan guru. Dialog berubah menjadi satu arah. Kepercayaan tidak terbangun; yang ada hanya kepatuhan formalitas. Orang tua juga menganggap sekolah sebagai tempat “penitipan anak” yang memiliki kuasa mutlak. Ketika anak gagal, sekolah disalahkan; ketika anak sukses, peran rumah sering kali diabaikan. Pola saling tuduh ini telah menjadi normal, seolah satu-satunya cara yang ada.
Nahdliya melihat pola itu harus diruntuhkan jika kita ingin generasi berikutnya mampu bersaing di kancah dunia. Kita memerlukan lompatan besar menuju model kemitraan yang erat, yang terhubung langsung dengan tujuan pembelajaran anak. Untuk itu, Nahdliya menawarkan tiga langkah nyata yang dapat dimulai dari sekarang.
Pertama, ubah cara pandang tentang peran orang tua. Kepala sekolah dan guru harus berani menurunkan ego dan menganggap orang tua sebagai mitra yang setara, tanpa mempertimbangkan latar belakang sosial atau ekonomi mereka. Sekolah harus berhenti memandang sebelah mata keluarga yang kurang mampu atau yang orang tuanya terlalu sibuk bekerja. Setiap orang tua, dari latar belakang apa pun, pasti memiliki impian terbaik untuk masa depan anaknya. Langkah konkretnya dimulai dari program kunjungan rumah (home visits) yang santai, hangat, dan ramah di awal tahun ajaran. Tujuannya murni: mendengarkan cerita, memahami kondisi keluarga, dan membangun rasa percaya yang jujur. Kunjungan ini bukan untuk menghakimi, mencari kesalahan, atau memeriksa kemewahan rumah. Ketika rasa percaya mulai tumbuh, ketakutan dan kecemasan yang selama ini dirasakan orang tua akan mencair. Hubungan yang tadinya kaku berubah menjadi kerja sama yang saling mendukung.
Kedua, manfaatkan teknologi yang sederhana namun tepat sasaran. Komunikasi sekolah tidak boleh lagi pasif, menunggu orang tua datang atau mencari informasi sendiri. Sekolah tidak bisa memaksa orang tua untuk mengunduh aplikasi rumit atau membuka situs web yang membingungkan. Solusinya praktis dan efektif: gunakan WhatsApp untuk mengirim informasi kehadiran, jadwal ujian, hingga perkembangan emosional anak secara berkala. Di Indonesia, hampir semua kalangan menggunakan ponsel pintar, dan pesan singkat terbukti sangat ampuh. Melalui pesan yang rutin dan mudah dipahami, orang tua dapat tahu apakah anaknya hadir, dan apa yang bisa dilakukan untuk mendukung pembelajaran anak di rumah. Teknologi harus menjadi jembatan komunikasi, bukan pembatas baru.
Ketiga, siapkan calon guru sejak di bangku kuliah. Salah satu alasan sekolah sering kali gagap saat harus melibatkan masyarakat adalah karena para guru memang jarang dilatih untuk itu. Selama ini, pendidikan tinggi kita fokus pada penguasaan materi ajar dan metode mengajar dalam kelas. Kurikulum di kampus-kampus pencetak guru (LPTK) sudah saatnya dirombak secara integratif. Calon guru tidak hanya diajari membuat RPP atau mengatur manajemen kelas, melainkan juga dibekali ilmu komunikasi sosial, cara mengatasi konflik dengan orang tua, dan strategi menggalang dukungan masyarakat di sekitar sekolah. Dengan bekal ini, ketika mereka bertugas nanti, mereka sudah siap merangkul orang tua dan masyarakat dengan percaya diri dan empati.
Pada akhirnya, Nahdliya mengingatkan kita bahwa perubahan kurikulum berkali-kali atau pembangunan fasilitas sekolah yang megah tidak akan pernah membuahkan hasil maksimal jika kita mengabaikan peran penting dari dalam rumah. Sekolah tidak boleh lagi berjalan sendiri sebagai pulau terisolasi. Kita perlu mengubah sekolah menjadi tempat yang ramah bagi semua golongan, sebuah pusat komunitas yang mendengarkan masukan dan menghargai keragaman budaya. Hanya dengan sinergi yang autentik antara rumah, sekolah, dan masyarakat, kita dapat menutup kesenjangan dan memberi anak-anak Indonesia kesempatan nyata meraih impian mereka. (Septiano)
Biodata Penulis:
Nahdliya Izzatul Mutammimah adalah mahasiswa Magister Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Universitas Lampung. Dapat dihubungi melalui izzascareer@gmail.com atau 085266557323.


