Literasi Pendidikan Perguruan Tinggi
Beranda / Perguruan Tinggi / Minder karena Kurang Sempurna di Mata Orang Lain: Merawat Diri untuk Menjadi Lebih Baik dari Sebelumnya

Minder karena Kurang Sempurna di Mata Orang Lain: Merawat Diri untuk Menjadi Lebih Baik dari Sebelumnya

dutacendikia.id, Lampung – Waktu SD sampai SMP, aku ingat jelas kulitku memang lebih gelap dari teman-teman. Tidak cerah. Di pipiku ada tahi lalat yang cukup besar. Gigiku juga tidak rapi.

Tidak ada yang mengejekku dengan teriak langsung di depan muka. Ejekannya lebih halus. Tatapan yang berhenti sedikit lebih lama di pipiku. Bisikan setelah aku lewat. Tawa kecil saat aku lewat. Hal-hal kecil, tapi kalau dikumpulkan setiap hari, lama-lama membekas.

Dari situ aku mulai merasa, oh mungkin aku memang tidak sempurna.

Rasanya tidak enak. Kalau di kelas, jadi tidak percaya diri untuk angkat tangan. Kalau foto bareng, jadi pengen di belakang. Kalau disuruh maju ke depan, rasanya takut salah. Aku jadi sering bertanya, salahku apa?

Aku jadi minder karena ketidaksempurnaanku itu. Minder yang membuatku merasa kalau fisikku kurang, berarti diriku juga kurang.

MIN 4 Bandar Lampung Raih Harapan I Kategori SD pada Ajang 41 Cup 2026

Lama-lama aku belajar sesuatu. Menerima diri itu bukan berarti diam saja dan membiarkan orang lain menyakiti kita terus. Menerima itu artinya mengakui, iya ini aku yang dulu, dengan kulit gelap, tahi lalat, dan gigi berantakan itu.

Tapi setelah menerima, aku juga punya pilihan untuk merawat diriku.

Waktu aku diejek hitam, aku belajar merawat kulitku semampuku, bukan karena ingin putih seperti orang lain, tapi karena aku ingin bersih dan sehat untuk diriku sendiri. Yang tadinya kusam, sekarang lebih terawat dan cerah.

Waktu tahi lalatku diejek, akhirnya aku memutuskan untuk menghilangkannya. Bukan karena benci sama diri sendiri, tapi karena setiap lihat itu aku ingat ejekan itu. Menghilangkannya adalah caraku untuk melepaskan bekas luka itu.

Waktu gigiku diejek teman perempuan, aku juga sakit hati. Dari situ aku mulai merawat gigi, pakai behel biar lebih rapi. Lagi-lagi bukan biar disukai orang lain, tapi biar aku nyaman senyum.

Supervisi Akademik MIN 2 Bandar Lampung Dimulai, Kepala Madrasah Tinjau Perangkat Ajar dan Praktik Pembelajaran Guru

Sekarang aku paham. Dulu aku pikir menerima diri itu harus pasrah. Ternyata tidak. Menerima itu adalah titik awal. Aku menerima bahwa aku pernah diejek, pernah dikucilkan, dan itu menyakitkan. Dan dari penerimaan itu, aku belajar memperbaiki apa yang memang bisa aku perbaiki, semampuku, bukan karena paksaan orang lain.

Aku belum 100% percaya diri. Kadang masih ingat omongan-omongan itu. Tapi sekarang kalau lihat ke kaca, aku tidak lagi melihat kekurangan saja. Aku melihat seorang anak yang dulu diejek, tapi mau terus merawat dirinya.

Untuk kamu yang pernah diejek karena fisik, kamu tidak sendirian. (Alfa)

Oleh: Khusnul Khotimah
Program Studi Tadris Matematika, Semester 3
Universitas Islam Negri Jurai Siwo Lampung

Kuliah atas Keinginan Orang Tua: Ketika Anak Harus Menempuh Jalan yang Tak Dipilihnya

Berita Populer






× Advertisement
× Advertisement