dutacendikia.id, Lampung – Menjelang kelulusan SMA, semua teman sibuk memikirkan kampus impian. Ada yang sibuk bimbel, ada yang sibuk hunting beasiswa. Aku? Aku sibuk memikirkan cara untuk bilang ke Ibu kalau aku tidak ingin kuliah.
Sejak kelas 12, pertanyaan itu selalu datang di meja makan. “Nanti mau kuliah di mana?” “Ambil jurusan apa?”
Aku hanya diam. Bukan karena tidak punya jawaban, tapi karena jawaban jujurku pasti mengecewakan.
Suatu sore, aku coba memberanikan diri. Aku ngomong pelan-pelan ke Ibu dan Ayah.
“Bu, Pak… kayaknya aku gak mau kuliah dulu. Aku pengen kerja aja.”
Seketika suasana jadi hening.
“Kerja apa? Kamu mau jadi apa kalau gak kuliah?” tanya Ibu dengan nada tinggi.
Aku bilang, aku takut. Aku takut tidak mampu kalau kuliah. Aku takut mengecewakan lagi. Lihat saja aku dulu, berangkat jam 06.30 pagi, pulang jam 15.30 sore dengan tas berat berisi tugas yang numpuk. Aku sudah lelah dengan sistem kejar nilai itu. Aku butuh jeda, aku butuh merilekskan pikiran. Aku takut kalau di kuliah aku tidak kuat lagi.
Tapi bagi orang tua, ketakutanku itu dianggap angin lalu.
“Justru karena itu kamu harus kuliah. Biar besok ke depan kamu punya pekerjaan yang mapan. Pekerjaan yang tetap. Gak kayak sekarang,” kata Ayah.
Dan keinginan mereka sudah bulat. Mereka ingin aku menjadi guru.
Guru. Sebuah profesi yang mulia, yang selalu Ibu banggakan. Ibu membayangkan aku berdiri di depan kelas, memakai seragam, dengan gaji tetap setiap bulan. Ibu membayangkan masa depan yang aman untukku.
Tapi tidak pernah ada yang bertanya, apakah aku ingin berdiri di sana?
Aku tidak ingin menjadi guru, Bu. Bukan karena aku membenci profesi itu, tapi karena aku tidak melihat diriku di sana. Aku ingin bekerja dengan tanganku sendiri, aku ingin mencoba dunia di luar ruang kelas yang selama 12 tahun sudah mengurungku dari jam 06.30 sampai 15.30.
Aku sudah bilang berkali-kali, “Aku gak pengen kuliah.” Tapi kalimat itu selalu kalah dengan kalimat, “Ini demi kebaikan kamu.”
Akhirnya aku mengangguk. Bukan karena aku setuju, tapi karena aku lelah berdebat. Aku lelah menjadi anak pembangkang.
Sekarang, brosur-brosur kampus itu menumpuk di meja belajarku. Formulir pendaftaran yang Ibu ambil dari tetangga tergeletak begitu saja. Aku melihatnya dengan pandangan kosong.
Di luar, teman-temanku bersorak merayakan kelulusan. Di dalam kamar ini, aku menangis diam-diam. Aku menangis bukan karena aku tidak lulus, tapi karena setelah ini aku harus melanjutkan perjalanan di jalan yang tidak aku inginkan.
Aku takut, Bu. Takut kalau nanti di tengah jalan aku menyerah. Takut kalau nanti uang yang sudah Ayah dan Ibu keluarkan untuk kuliahku terbuang sia-sia karena aku menjalaninya tanpa hati.
Aku tahu Ibu dan Ayah ingin yang terbaik. Aku tahu ini bentuk cinta kalian. Tapi bolehkah sekali saja, cinta itu membiarkanku memilih jalanku sendiri? Bahkan jika jalan itu bukan menjadi seorang guru, bahkan jika jalan itu hanya menjadi pekerja biasa yang berangkat pagi dan pulang sore dengan tenang?
Aku tidak ingin kuliah, Bu. Tapi jika restu kalian hanya ada di bangku kuliah, maka akan aku tempuh, dengan segenap takut yang aku punya. (Alfa)
Oleh: Khusnul Khotimah
Mahasiswa Universitas Islam Negeri Jurai Siwo Lampung


