dutacendikia.id, Bandar Lampung – Pagi itu halaman MIN 2 Bandar Lampung terasa berbeda. Di bawah tenda yang dihiasi kain hijau dan emas, ratusan pasang mata tertuju pada panggung sederhana bertuliskan Perpisahan Mahasiswa KKN Tematik 213 & PPL 36 UIN Raden Intan Lampung Jumat (22/08). Suara riuh siswa bercampur dengan lantunan doa, menciptakan suasana yang hangat, penuh rasa kekeluargaan.
Sejak pertengahan Juli, wajah-wajah mahasiswa itu begitu akrab di mata siswa. Mereka hadir di ruang kelas, di lorong-lorong madrasah, bahkan di panggung literasi yang kini menjadi pusat acara. Bukan hanya mengajar, mereka ikut bermain, mendampingi, dan berbagi cerita—hingga akhirnya keberadaan mereka terasa seperti keluarga sendiri.
“Anak-anak kami merasa punya kakak baru yang sabar mendampingi. Kehadiran mereka menambah semangat belajar di madrasah ini,” ungkap Kepala MIN 2 Bandar Lampung, H. Untung Pribadi, M.Pd.I., dengan nada penuh kebanggaan.
Kesan serupa dirasakan para mahasiswa. Ketua kelompok KKN, Habib Burrahman, menyebut pengalaman di madrasah sebagai salah satu bagian berharga dalam perjalanan akademiknya. “Kami belajar banyak hal di sini, bukan hanya tentang mengajar, tapi tentang bagaimana menjadi bagian dari sebuah keluarga besar yang saling mendukung,” ucapnya.

Penampilan seni siswa menghidupkan panggung perpisahan, menambah kesan hangat sekaligus meriah.
Acara perpisahan itu bukan sekadar formalitas. Siswa-siswi menampilkan tarian, drama islami, hingga hiburan kreatif yang mengundang tawa. Sesekali terdengar sorak dan tepuk tangan riuh, seolah ingin menahan detik-detik perpisahan yang terasa cepat. Di antara keramaian, beberapa siswa kecil tampak menatap para mahasiswa dengan wajah polos yang menyimpan rasa enggan berpisah.
Sebagai penutup, sebuah cenderamata berupa kaligrafi diserahkan mahasiswa kepada pihak madrasah. Benda sederhana itu menjelma simbol penghargaan sekaligus jejak persahabatan yang akan terus melekat. Dosen pembimbing lapangan, Dr. Deti Elice, M.Pd., menyebut kolaborasi dengan MIN 2 Bandar Lampung adalah contoh bagaimana sinergi kampus dan madrasah bisa saling menguatkan.
Lebih dari sekadar perpisahan, momen ini menegaskan wajah MIN 2 Bandar Lampung sebagai madrasah yang hidup dengan nilai keislaman, kebersamaan, dan inovasi. Madrasah tidak hanya menjadi tempat belajar, tetapi juga ruang yang menumbuhkan karakter, membangun jejaring, dan membuka kesempatan bagi siapa pun untuk belajar bersama.
Ketika panggung akhirnya ditutup dan kursi-kursi mulai kosong, satu hal terasa jelas: MIN 2 Bandar Lampung telah menunjukkan bahwa madrasah bukanlah lembaga pinggiran, melainkan pusat pendidikan yang mampu melahirkan pengalaman mendalam, baik bagi siswa maupun bagi mereka yang sempat singgah di dalamnya. (Septiano/Humas)


