dutacendikia.id, Bandar Lampung – Tanggung jawab menjaga lingkungan dan menghargai perbedaan merupakan dua hal yang tidak dapat dipisahkan dari pengamalan ajaran Islam. Pesan tersebut disampaikan Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Lampung, Zulkarnain, kepada kader Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Raden Intan Lampung dalam Pelatihan Kemampuan Dasar (PKD) di Villa Gatot, Bandar Lampung, Minggu (1/11/2026).
Dalam penyampaian materi fikih lingkungan atau fiqhul bi’ah, Zulkarnain mengingatkan bahwa kedudukan manusia sebagai khalifah di bumi membawa tanggung jawab untuk mengelola, memelihara, dan memberdayakan alam. Amanah tersebut, menurutnya, tidak dapat dimaknai sebagai kewenangan untuk menguasai bumi tanpa batas.
“Manusia diciptakan sebagai khalifah di muka bumi. Khalifah itu adalah pengelola, pemelihara, dan pemberdaya. Jadi, bukan kita menguasai bumi. Kita diberikan amanah untuk mengambil manfaat sekaligus menjaga apa yang ada di dalamnya,” ujarnya.

Ia menyoroti berbagai persoalan lingkungan, mulai dari deforestasi, kebakaran hutan, pencemaran udara, banjir, hingga tanah longsor. Kerusakan tersebut, menurut Zulkarnain, salah satunya dapat dipicu oleh perilaku manusia yang mengeksploitasi alam tanpa mempertimbangkan keberlanjutannya.
Karena itu, pemanfaatan sumber daya alam perlu memperhatikan dampak terhadap lingkungan. Zulkarnain menegaskan bahwa mengambil manfaat dari alam harus disertai tanggung jawab untuk menjaga kelestariannya. Prinsip tersebut juga tercermin dalam ajaran Islam yang menekankan pentingnya menghilangkan bahaya dan mencegah kerusakan.
“Kalau kita melakukan eksploitasi sumber daya alam, harus ada kajian dampak lingkungannya. Jika hutan ditebang, ada kewajiban untuk melakukan penanaman kembali. Jangan hanya mengambil manfaatnya, tetapi mengabaikan kelestariannya,” katanya.
Selain persoalan lingkungan, Zulkarnain menyampaikan pentingnya moderasi beragama dan sikap menghargai perbedaan. Ia mengingatkan kader PMII agar tidak terjebak dalam cara beragama yang eksklusif, merasa paling benar, atau mudah menyalahkan pandangan orang lain.
Menurutnya, Islam mengajarkan sikap moderat dan tidak berlebihan dalam beragama. Perbedaan pendapat yang memiliki landasan dan dapat dipertanggungjawabkan perlu disikapi dengan penghargaan, bukan permusuhan.
“Jangan merasa paling benar, merasa hanya kelompok kita yang masuk surga, sementara yang lain dianggap salah. Kalau ada perbedaan pendapat dan memiliki dalil, kita harus saling menghargai,” tegasnya.
Zulkarnain juga mengingatkan bahwa keberagaman suku, bangsa, dan latar belakang merupakan ketetapan Allah SWT. Ia merujuk Surah Al-Hujurat ayat 13 yang menjelaskan bahwa manusia diciptakan berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar saling mengenal.
Bagi Zulkarnain, moderasi beragama tidak berhenti pada pemahaman atau wacana. Nilainya perlu tercermin dalam perilaku sehari-hari, termasuk dalam membangun hubungan baik dengan pemeluk agama lain serta menciptakan rasa aman dan nyaman bagi sesama melalui ucapan maupun tindakan.
Ia turut mengajak kader PMII mengerahkan kemampuan intelektual, tenaga, dan potensi diri untuk kepentingan masyarakat, umat, dan negara. Aktivisme mahasiswa, dalam pesan yang disampaikannya, perlu diarahkan pada pengabdian dan penyebaran kebaikan.
“Jadilah seorang mujahid yang mengerahkan seluruh kemampuan, baik intelektual maupun tenaga, untuk berkhidmat kepada umat dan negara. Tebarkan kebaikan kepada siapa pun,” pesannya.
Dua pesan tersebut menempatkan keberagamaan dalam ruang pengabdian yang luas: menjaga alam sebagai amanah, menghormati perbedaan sebagai sikap hidup, serta menggunakan kemampuan diri untuk menghadirkan manfaat bagi masyarakat. Bagi kader PMII, pesan itu menjadi pengingat bahwa nilai keislaman perlu hadir dalam tindakan nyata, baik dalam relasi manusia dengan lingkungan maupun dalam kehidupan bersama yang beragam. (Alfa)


