dutacendikia.id, Bandar Lampung – MIN 12 Bandar Lampung kembali menguatkan komitmennya dalam pelestarian budaya lokal melalui pelaksanaan apel pagi berbahasa Lampung, Kamis (16/4/2026). Kegiatan yang berlangsung di halaman madrasah ini diikuti oleh seluruh siswa dan dewan guru dengan suasana tertib dan penuh antusias.
Apel pagi tersebut dipimpin oleh Wakil Kepala Bidang Kurikulum, Wanda Kurniawa, S.Pd. Sejak awal kegiatan, nuansa lokal terasa kental melalui penggunaan Bahasa Lampung dalam setiap rangkaian apel, mulai dari pembukaan hingga penyampaian amanat.
Dalam amanatnya, penggunaan Bahasa Lampung tidak hanya menjadi sarana komunikasi, tetapi juga sebagai bentuk nyata pembiasaan literasi budaya di lingkungan madrasah. Siswa tampak mengikuti jalannya apel dengan penuh perhatian, sekaligus berlatih memahami dan menggunakan bahasa daerah dalam konteks formal.
Di barisan peserta, para siswa terlihat kompak dan khidmat. Sesekali terdengar respons mereka saat mengikuti instruksi dalam Bahasa Lampung, mencerminkan proses pembelajaran yang tidak hanya bersifat akademik, tetapi juga kultural.

Suasana halaman madrasah saat apel pagi berlangsung, diwarnai semangat penggunaan Bahasa Lampung.
Kegiatan ini juga menjadi ruang edukatif yang memperkenalkan kembali ungkapan-ungkapan khas daerah. Salah satu pesan yang mengemuka dalam apel tersebut adalah ajakan untuk menjaga identitas budaya melalui bahasa, sebagaimana tergambar dalam ungkapan, “Mak ganta kapan lagi, mak kham sapa lagi,” yang mengandung makna dorongan untuk bertindak mulai dari diri sendiri.
Pembiasaan berbahasa daerah ini merupakan bagian dari upaya madrasah dalam menanamkan karakter cinta budaya sejak dini. Melalui kegiatan sederhana namun konsisten, siswa diajak untuk tidak tercerabut dari akar budayanya di tengah arus modernisasi.
Dengan langkah ini, MIN 12 Bandar Lampung menunjukkan bahwa pendidikan tidak hanya berorientasi pada capaian akademik, tetapi juga pada pembentukan karakter dan identitas. Bahasa daerah menjadi salah satu pintu masuk penting dalam menumbuhkan generasi yang berakar kuat, berakhlak, dan memiliki kesadaran budaya yang tinggi. (Septiano/Humas)


