dutacendikia.id, Lampung – Ada masa ketika belajar semestinya menjadi ruang bagi anak untuk bertanya, mencoba, gagal, dan kembali belajar. Namun, ketika nilai, peringkat, dan pencapaian akademik ditempatkan sebagai ukuran utama keberhasilan, ruang tersebut perlahan dapat berubah menjadi sumber tekanan.
Ujian nasional, seleksi masuk perguruan tinggi, hingga tuntutan untuk mempertahankan peringkat di kelas kerap menempatkan siswa pada situasi stres tingkat tinggi. Orientasi pendidikan yang terlalu terpaku pada angka di rapor dapat melahirkan kecemasan di kalangan pelajar. Kegagalan memperoleh nilai tinggi bahkan dapat dipersepsikan sebagai kegagalan hidup secara keseluruhan.
Dalam kondisi seperti ini, persoalan yang muncul bukan lagi sekadar mengenai capaian akademik. Sebagian anak dapat merasa tidak berharga, kehilangan motivasi belajar, bahkan mengalami tekanan psikologis akibat tuntutan yang datang dari lingkungan sekolah maupun keluarga. Karena itu, persoalan tekanan akademik penting dilihat dari perspektif psikologi terapan, terutama untuk memahami bagaimana perubahan makna belajar dapat memengaruhi self-esteem atau harga diri siswa.
Ketika Belajar Bergeser Menjadi Pengejaran Nilai
Kebiasaan mengukur kualitas anak hanya melalui angka akademik dapat dijelaskan melalui Self-Determination Theory yang dikembangkan oleh Ryan dan Deci. Teori ini menjelaskan bahwa motivasi belajar yang sehat tumbuh dari dalam diri atau motivasi intrinsik. Dorongan tersebut berkembang ketika anak merasa mampu, memiliki ruang untuk menentukan pilihan, dan merasa diterima oleh lingkungan sekitarnya.
Persoalan muncul ketika nilai ujian menjadi satu-satunya dasar penghargaan dan hukuman. Dalam kondisi tersebut, siswa berpotensi mengalami overjustification effect. Belajar yang semestinya lahir dari rasa ingin tahu dapat bergeser menjadi aktivitas untuk menghindari hukuman atau memperoleh validasi dari luar diri.
Perubahan tersebut secara perlahan dapat mengikis makna belajar itu sendiri. Anak tidak lagi melihat pengetahuan sebagai sesuatu yang menarik untuk dipahami, tetapi sebagai alat untuk mencapai angka tertentu. Ketika angka menjadi tujuan utama, kegagalan memperoleh nilai tinggi pun mudah dipandang sebagai ancaman terhadap harga diri.
Ketika Kegagalan Dianggap sebagai Identitas
Cara seorang anak memaknai kegagalan juga memiliki pengaruh penting terhadap kondisi psikologisnya. Weiner melalui Attribution Theory menjelaskan bahwa cara seseorang menginterpretasikan keberhasilan dan kegagalan turut memengaruhi respons terhadap pengalaman tersebut.
Siswa yang mengalami tekanan akademik berat dapat mengembangkan pola atribusi internal-stabil yang keliru. Ketika memperoleh nilai buruk, misalnya, kegagalan tersebut tidak dipandang sebagai bagian dari proses belajar atau akibat kurang optimalnya persiapan. Sebaliknya, anak dapat menyimpulkan bahwa dirinya memang tidak pintar dan akan selalu demikian.
Jika pola pikir tersebut terus berlangsung, nilai buruk tidak lagi dipahami sebagai hasil dari suatu proses, tetapi berubah menjadi label terhadap diri sendiri. Pada titik inilah tekanan akademik dapat merusak harga diri siswa dan menciptakan iklim kompetisi yang tidak sehat. Ruang kelas yang seharusnya menjadi tempat untuk mengeksplorasi pengetahuan berisiko berubah menjadi arena pacuan untuk membuktikan siapa yang paling unggul.
Menyeimbangkan Prestasi Akademik dan Kesehatan Mental
Pendidikan tentu memiliki tanggung jawab untuk mendorong siswa mencapai kemampuan akademik yang baik. Namun, capaian kognitif tidak seharusnya dipisahkan dari kesehatan mental dan perkembangan karakter.
Dalam pandangan Islam, menuntut ilmu merupakan proses yang mulia. Al-Qur’an bahkan menegaskan bahwa Allah SWT akan mengangkat derajat orang-orang yang beriman dan diberi ilmu pengetahuan, sebagaimana disebutkan dalam QS. Al-Mujadilah ayat 11. Karena itu, ilmu semestinya membawa manusia menuju kebijaksanaan (hikmah) dan akhlak yang baik, bukan berhenti pada pencapaian indikator kuantitatif.
Perspektif tersebut memberikan ruang untuk melihat pendidikan secara lebih utuh. Nilai tetap memiliki fungsi dalam mengukur perkembangan belajar, tetapi nilai bukanlah keseluruhan diri seorang anak. Di balik angka yang tercantum dalam rapor terdapat individu dengan potensi, keterbatasan, proses, dan pengalaman belajar yang berbeda.
Karena itu, sekolah dan orang tua perlu membangun sinergi untuk mengubah cara pandang terhadap proses belajar. Anak perlu diberi ruang untuk mengenali keunikan potensinya, mendapatkan penghargaan atas setiap proses perbaikan, serta memperoleh dukungan terhadap kesejahteraan psikologisnya.
Pendekatan semacam ini penting untuk membangun generasi yang resilien. Anak tidak semestinya tumbuh dengan keyakinan bahwa dirinya berharga hanya ketika memperoleh nilai tinggi. Sebaliknya, mereka perlu memahami bahwa kegagalan merupakan bagian dari proses belajar dan bahwa setiap individu memiliki kesempatan untuk berkembang.
Pada akhirnya, psikologi pendidikan mengingatkan bahwa anak adalah manusia seutuhnya, bukan sekadar pencetak nilai. Mereka memiliki keragaman kecerdasan, karakter, pengalaman, dan potensi yang tidak seluruhnya dapat direpresentasikan melalui angka.
Menjaga harga diri siswa dari tekanan akademik yang berlebihan bukan berarti mengabaikan prestasi. Justru sebaliknya, pendidikan perlu menciptakan keseimbangan agar prestasi tumbuh bersama kesehatan mental, karakter, dan rasa percaya diri. Dengan demikian, sekolah tidak hanya melahirkan anak-anak yang cerdas secara intelektual, tetapi juga generasi yang mampu memahami dirinya, menghadapi kegagalan, dan tumbuh dengan ketahanan diri yang sehat. (Alfa)
Oleh: Nabila Wulan Ndari
Mahasiswa UIN Jurai Siwo Lampung


